Langsung ke konten utama

Postingan

Teori Pertukaran Sosial

Teori Pertukaran Sosial Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964).  Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibaut dan Kelley, pemuka utama dari teori ini menyimpulkan teori ini sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.  Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku ...

Mahzab Fenomenologi Max Weber

Fenomenologi       Fenomenologi adalah satu aliran filsafat modern yang sangat berpengaruh. Salah satu tokoh utamanya adalah Edmund Husserl (1859-1935) dari Jerman. Pada prinsipnya metode fenomenologi yang dibangun oleh Husserl ingin mencapai “hakikat segala sesuatu”. Maksudnya agar mencapai “pengertian yang sebenarnya” atau “hal yang sebenarnya” yang menerobos semua gejala yang tampak. Usaha untuk mencapai hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan. Husserl mengemukakan tiga macam reduksi berikut ini :    1. Reduksi fenomenologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud supaya mendapatkan fenomena dalam wujud yang semurni-murninya 2. Reduksi eidetis, penyaringan atau penetapan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidus atau inti sari atau hakekat gejala atau fenomena. Jadi hasil reduksi kedua ialah “penilikan hakikat”. Inilah pengertian yang sejati.    3. Reduksi transendental, yang harus ditempatkan diantara...

Rethinking of Culture

  Di dunia ini, tak seorang pun yang tak menghendaki dirinya beradab atau punya peradaban yang baik. Begitu halnya masyarakat, bangsa, atau negara apa dan manapun. Semua berlomba menjadi entitas yang beradab atau berperadaban. Ya, begitulah manusia dengan segala proses dan dinamika hidupnya. Satu hal yang tak terpungkiri adalah bahwa dalam berlomba menjadi entitas yang beradab atau berperadaban, tak jarang menuai konflik dalam pelaksanaannya. Alih-alih mencapai apa yang dikehendaki secara bersama, yang ada adalah konflik dan pertentangan yang pada faktanya justru merusak. Atas nama kebebasan bertindak, yang satu berlaku tanpa menghiraukan kehendak yang lainnya. Begitupun yang lain, dan seterusnya. Di sinilah letak kendala yang harus kita maknai sebagai batu ujian. guna menghadirkan peradaban yang sama-sama kita kehendaki sebagai kehidupan yang baik. Menghendaki peradaban yang baik, tentu mensyaratkan adanya proses yang baik. Bahwa tujuan yang baik tanpa pros...

Sejarah Taman Nasional Way Kambas

     Sejarah Taman Nasional Way Kambas adalah satu dari dua kawasan konservasi yang berbentuk taman nasional di Propinsi Lampung selain Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan  Nomor  670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999, kawasan TNWK mempunyai luas lebih kurang 125,631.31 ha.  Secara gaeografis Taman Nasional Way Kambas terletak  antara 40°37’ – 50°16’ Lintang Selatan dan antara 105°33’ – 105°54’ Bujur Timur. Berada di bagian tenggara Pulau Sumatera di wilayah Propinsi Lampung. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas dan Cabang disisihkan sebagai daerah hutan lindung, bersama-sama dengan beberapa daerah hutan yang tergabung didalamnya. Pendirian kawasan pelestarian alam Way Kambas dimulai sejak tahun 1936 oleh Resident Lampung, Mr. Rookmaker, dan disusul dengan Surat Keputusan Gubernur Belanda tanggal 26 Januari 1937 Stbl 1937 Nomor  38.  Pada tahun 1978 Suaka Margasa...

Refleksi Moral Pendidikan Nasional

Tiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia tak pernah luput memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan ini sekaligus mengenang jasa salah satu Pahlawan Nasional, yakni Ki Hajar Dewantara—bertepatan dengan hari lahirnya, sang pelopor pendidikan di Indonesia. Sebagai pelopor pendidikan, Ki Hajar Dewantara punya triloka yang sangat terkenal. Triloka tersebut, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha , Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani . Prinsip patrap triloka inilah yang juga menjadi pedoman pendidikan di Indonesia. tentunya tujuan dan makna prinsip tersebut ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai kesadaran berbangsa, bermartabat, dan menjadi manusia yang merdeka. Peringatan ini juga menjadi perenungan bersama mengenai kualitas pendidikan di negara kita saat ini. Apalagi sistem pendidikan formal di Indonesia kini masih belum merata dan menyuluruh di kalangan masyarakat. Apalagi kita tahu, kualitas Sumber Daya Masyarakat (SDM) bangsa Indonesia masuk pering...

Menafsir Sudut Pandang Toleransi

Semakin cepat perkembangan teknologi serta sosial budaya yang membaur dengan cara pandang sebagai masyarakat dunia, tentu kita memahami perbedaan yang signifikan ketika melihatnya dari cara pandang sebagai masyarakat yang berlandaskan lokalitas dan global. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar ketika berbicara tentang toleransi. Apakah sebagai masyarakat global kita memandang toleransi sebagai cara pandang semata yang mudah dipengaruhi atau sebagai prinsip hidup sebagai ideologi mutlak di dalam diri seseorang. Dalam memahami toleransi, acapkali menimbulkan kontroversi. Bagaimana memahami toleransi itu sendiri dalam cara pandang tertentu? Apalagi ketika melihat dari cerminan bahwa masyarakat itu sendiri bukan dari suatu kaum, artinya berdiri berasal dari perbedaan atau pluralisme karena itulah dasar dari cara pandang selalu berbeda? Yang menjadi konteks permasalahan adalah toleransi seperti apakah yang diinginkan? Yang tentu cara pandang berbeda selalu menimbulkan kontra kein...

Kearifan Lokal Rumah Limas Terjemah Kecerdasan & Strategi Pola Hidup Masyarakat Palembang

Kearifan lokal merupakan warisan budaya yang secara turun temurun terpelihara hingga saat ini. Budaya lokal ini biasanya tercipta melalui ruang proses panjang yang evolutif dengan berbagai tranfer keilmuan, baik melalui tutur dan praktik langsung secara trans-generasi. Warisan budaya ini dapat dijumpai berupa bangunan fisik dan tradisi. Biasanya kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai satu kecerdasan dan strategi kehidupan setempat dalam menjawab berbagai aktivitas masyarakat local, baik adat, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, bahasa, dan komunikasi serta struktur sosial. Melalui bekal akal, hawa nafsu dan hati nurani, secara kodrati manusia telah bersikap responsif terhadap lingkungannya. Karya seni, adat budaya dan kepercayaan merupakan buah proses dari interaksi manuisia terhadap lingkungan kehidupannya. Keingintahuan manusia membuat dirinya kagum, hormat bahkan tunduk lalu memujanya. Upaya melestarikan aneka kearifan lokal ini memiliki corak yang berbeda. D...